Peran siswa dalam teori belajar behavioristik

teori belajar behavioristik

Teori belajar behavioristik mengajarkan siswa untuk berperilaku dan berpikir secara rasional. Pembelajaran seperti ini harus digunakan untuk mennciptakan pembelajar seumur hidup. Siswa perlu diajari nilai pengendalian perilaku mereka sendiri dan agar mereka bertanggung jawab atas tindakan mereka.

Perilaku tersebut memiliki efek mendalam pada perkembangan seseorang. Terserah kepada guru untuk melatih siswa tentang bagaimana menanggapi situasi dengan tepat. Pembelajaran berbasis perilaku ini mengajarkan siswa cara berpikir dan bertindak. Sikap, kepercayaan, dan perilaku mereka dievaluasi dengan setiap situasi baru yang mereka hadapi.

Teori belajar behavioristik mengajarkan siswa cara belajar dan berhasil dalam berbagai mata pelajaran akademik seperti matematika, bahasa Inggris, ilmu sosial, sains, sejarah. Proses evaluasi menentukan kekuatan dan kelemahan yang telah dipelajari siswa.

Teori belajar behavioristik jauh lebih dari sekadar cara untuk mengajar siswa. Siswa diharapkan menjadi bagian dari solusi dan bukan masalah. Mereka harus dapat belajar menggunakan keterampilan penalaran mereka untuk sampai pada kesimpulan yang tepat tentang tindakan mereka. Jika siswa tidak dapat menggunakan keterampilan mereka dengan benar maka seluruh program akan sia-sia. Perilaku perlu diterapkan secara efektif dan prosesnya tidak pernah berakhir.

Perilaku dan kecerdasan ditentukan oleh fungsi otak seseorang. Ada tes berbasis kognitif yang menunjukkan jumlah fungsi yang dimiliki seseorang dan area kelemahannya. Pembelajaran berbasis perilaku mengajarkan siswa cara meningkatkan fungsi otak mereka sehingga mereka dapat benar-benar produktif.

Masalah perilaku dapat dengan mudah diselesaikan melalui pembelajaran behavioristik, jika hanya siswa yang mau berkomitmen pada program tersebut. Siswa harus bertanggung jawab atas perilaku mereka. Mereka bertanggung jawab atas setiap keputusan yang mereka buat. Jika seorang siswa tidak tertarik mengikuti aturan maka ada konsekuensi untuk perilaku itu.

Teori belajar behavioristik juga mengajarkan siswa bagaimana menghindari masalah dan menghindari situasi yang dapat menyebabkan mereka menjadi bermasalah di masa depan mereka. Siswa perlu belajar menangani situasi dengan hati-hati, logis, dan rasional. Di sinilah letak perbedaan antara pola pikir yang sehat dan yang buruk.

Siswa yang tidak mau mengubah perilaku mereka dapat dengan mudah jatuh ke dalam perangkap kebiasaan buruk. Mereka akan terus menjadi korban perilaku buruk dan ini akan menjadi pola yang siswa akan ulangi sepanjang karier akademis mereka. Kebiasaan-kebiasaan negatif ini akan mempengaruhi cara siswa berperilaku ketika dia berada dalam lingkungan kelompok.

Siswa yang tidak memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menangani diri mereka cenderung menjadi siswa “masalah”. Guru akan menggunakan statistik untuk menentukan kekuatan dan kelemahan siswa. Mereka akan menggunakan informasi ini untuk merancang kurikulum untuk membantu siswa mengembangkan kualitas-kualitas ini.

Pembelajaran behavioristik mengajarkan siswa cara berpikir sebelum bertindak. Ketika seorang siswa dihadapkan dengan suatu keputusan untuk diambil, ia harus memikirkannya sebelum mengambil keputusan. Contoh yang baik dari ini adalah keputusan apakah atau tidak mendengarkan profesor selama kuliah.

Teori belajar berbasis perilaku mengajarkan siswa cara berpikir untuk diri mereka sendiri dan tidak hanya bereaksi berdasarkan faktor eksternal. Mereka harus menjadi warga negara yang sadar diri, kompeten dan bertanggung jawab. Mereka harus mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang sifat manusia dan belajar untuk menangani interaksi manusia dengan baik.