Kesalahan Kampanye Calon Anggota DPR di Media Sosial

Pemilihan umum 2019 tinggal menghitung hari. Para calon anggota legislatif baik DPR, DPR, DPRD Tingkat I maupun DPRD Tingkat II berlomba lomba mempromosikan dirinya sehingga  pada waktunya nanti dapat terpilih dan menjadi anggota legislatif. Secara umum tugas anggota DPR, DPR, DPRD Tingkat I maupun DPRD Tingkat II yaitu legislasi, penganggaran dan pengawasan. Tapi disini kita tidak membahas bagaimana tugas anggota legislatif tersebut, yang akan kita bahas bagaimana kesalahan berkampanye khususnya kampanye di media sosial.

Secara umum caleg melakukan beberapa kampanye berikut:
1. Kampanye bertatap muka langsung

Kampanye Calon Anggota Legislatif

Kampanye ini bisa berupa kampanye akbar di lapangan terbuka atau pun kampanye di ruangan tertutup. Adapun yang berkampanye lewat roadshow berkeliling ke rumah-rumah warga. Tapi pertanyaannya khususnya untuk calon anggota DPR RI atau DPR Pusat bisakah menjangkau semuanya? Patinya tidak makanya memerlukan media kampanye lain

2. Media kampanye offline
Media kampanye online ini bisa berupa spanduk, poster, cetak kalender, stiker, maupun kartu nama yang disebar oleh tim relawan. Cara ini efektif tetapi memerlukan anggaran yang cukup banyak karena harus memobilisasi banyak orang dengan logistik yang banyak. Atau bahkan ada yang memasang kampanye di media cetak. Pertanyaannya apakah itu efektif? 

3. Media kampanye online
Banyak yang menyasar kampanye di media online salah satunya beriklan di penyedia iklan online semisal Ads Google ataupun FB Ads. Kampanye ini dinilai cukup efektif karena banyak pertimbangan, diantaranya bisa terjadi komunikasi dua arah antara pemilih dengan calon selain itu kampanye ini bisa dioptimalkan. 

Sekarang saya akan membahas tentang kesalahan umum ketika beriklan di FB Ads karena facebook cukup populer di Indonesia dengan pengguna 230.000.000. Beberapa kesalahan yang terjadi:

1. Tidak tertarget
Banyak yang berkampanye di media facebook dengan FB Ads nya tetapi targetingnya tidak tepat. Semisal ada beberapa caleg berkampanye bukan di daerah pemilihan (dapil) nya sendiri. 

2. Tidak konsisten
Banyak yang berkampanye juga tidak konsisten, padahal dalam melaksanakan kampanye harus terjadwal. Karena jadwal yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula. 

3. Konten tidak menarik
Banyak juga anggota DPR yang berkampanye lewat media sosial tidak bisa membuat konten yang menarik. Dalam ilmu pemasaran untuk menarik minat diperlukan konten yang menarik.

Secara ilmiah sebenarnya dengan kampanye di media sosial saja bisa mendatangkan lumayan banyak suara, apalagi sekarang sesama anggota partai saja berebut. Dari hasil penelitian bahwa kecenderungan pemilih memilih calon hanya 5% sisanya memilih partai. Banyak sekali cara yang bisa digunakan dengan menggunakan analisis data online salah satunya membuat konten yang menarik. Berkampanye di medsos pun jauh lebih murah dibanding media kampanye offline. 

Ada ebook khusus tentang cara berkampanye yang efektif sehingga bisa mendulang suara. Untuk mendapatkannya silahkan subscribe blog ini kemudian hubungi saya di form contact blog. Terima kasih

Subscribe via email:

0 Response to "Kesalahan Kampanye Calon Anggota DPR di Media Sosial"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel